Cryptocurrency, Teknologi

China Uji Coba Mata Uang Digital, Kapan Diluncurkan?

Mata uang digital China sedang diujicobakan

Ajaib.co.id – Sebagai negara yang ekonominya lebih dulu pulih dari pandemi global Covid-19, China terus mendorong rencananya untuk meluncurkan mata uang digital yang dinamakan Digital Currency Electronic Payment (DCEP), dengan tujuan menjadi negara pertama di dunia yang menawarkan mata uang berdaulat digital.

Dilansir dari sofi.com, bank negara China yang dinamai The People Bank of China sebelumnya juga telah berupaya menciptakan mata uang digital sejak 2014, dengan meluncurkan percobaan Central Bank Digital Currency (CBDC) di empat kota besar, Senzhen Suzhou, Chengdu, dan Xiong’an dan melakukan pengujian DCEP yang digunakan untuk membayar sebagian gaji pegawai negeri pemerintah pada bulan April dan Mei lalu,.

Uji coba lain yang dilakukan The People Bank of China adalah bermitra dengan perusahaan swasta untuk menjalankan uji coba mata uang digital tersebut, di antaranya Didi Chuxing yang merupakaan perusahaan ride-sharing berbasis di Beijing dan perusahaan pengiriman makanan Meituan Dianping. Untuk kedepannya, mereka akan segera menggandeng perusahaan global untuk menggunakan DCEP sebagai sistem digital payments seperti Starbucks dan McDonalds.

Lucy Gazmamarian sebagai ahli mobile payments dan Komite Asosiasi Fintech Blockchain Hong Kong mengungkapkan bahwa untuk saat ini uji coba ini harus dilakukan. Uji coba yang komprehensif dan berkala adalah kunci, mengingat stabilitas finansial dan kondisi keuangan negara yang dipertaruhkan di kemudian hari. Sistem yang menggunakan teknologi blockchain ini akan membuat transaksi lebih efisien karena tidak perlu pihak ketiga dalam proses pertukaran data.

Ia menambahkan peluncuran mata uang digital adalah langkah yang besar dalam inovasi teknologi. Untuk pertama kalinya mata uang berbasis digital ini diprogram untuk melakukan sesuatu secara otomatis, memiliki fungsionalitas, dan dapat digunakan oleh masyarakat luas, tidak hanya China tetapi juga seluruh dunia.Selain itu, DCEP diharapkan mampu bersaing dengan mata uang asing, salah satunya dolar Amerika Serikat.

Pada umumnya, DCEP merupakan CBDC versi China. The People Bank of China juga telah mengembangkannya sejak selama lebih dari lima tahun. China dianggap sebagai penggerak awal inovasi ini sejak 2013 mendahului pengembangan mata uang digital yang juga dilakukan oleh AS. Kebangkitan cryptocurrencies seperti Bitcoin dan Ethereum ditengarai sebagai titik awal motivasi China untuk mengendalikan suplai uang dan mata uang berbasis digital di seluruh dunia.

Bank Sentral China menyadari bahwa kebangkitan cryptocurrencies merupakan pemicu nyata pentingnya uang digital karena dikembangkan dengan teknologi dan membantu proses transaksi di dunia digital. Mereka juga menyatakan bahwa inovasi teknologi ini luar biasa dan melalui sistem pembayaran yang terintegrasi, mereka dapat meningkatkan infrastruktur ekonomi ke depannya.

Dalam sebuah wawancara dengan Fortune, Gazmamarian ditanya bagaimana perkembangan mata uang digital menjadi fokus utama China saat ini, ia mengatakan bahwa pengembangan ini menjadi proyek prioritas negara dengan penduduk terbanyak di dunia tersebut dikarenakan seiring berkembangnya teknologi, manusia menghabiskan setengah waktunya sehari-hari di dunia digital, oleh sebab itu dibutuhkan teknologi yang bergerak maju menuju ekonomi digital untuk mendukung aktivitas tersebut.

Ekonomi digital membutuhkan uang digital. Diperlukan uang dalam bentuk digital untuk memudahkan transaksi. Jika tidak, ancaman uang digital lainnya seperti Bitcoin atau Libra (uang digital milik Facebook) yang memiliki teknologi yang dapat terintegrasi ke ekonomi digital akan terus mengintai. Jadi, tidak heran jika China begitu antusias dalam pengembangan uang digitalnya.

Untuk realisasi DCEP, China akan menggunakan dua data, pertama data yang melibatkan aktivitas ekonomi menyeluruh suatu negara secara real-time, dengan data tersebut direkam pada jaringan tipe blockchain, buku besar terdistribusi. Pemerintah akan memiliki akses ke semua data tersebut. Di sisi lain, Bank Sentral melakukan tugasnya lebih efektif, karena alih-alih mengalami kelambatan dalam data ekonomi, mereka memantau semua pengeluaran, transaksi, hingga jumlah uang beredar secara real-time.

Sayangnya, uang digital memiliki pro kontranya sendiri. Meskipun bermanfaat dalam ekonomi digital, mata uang digital yang sedang dikembangkan AS, yaitu CBDC dapat merekam dan melacak aktivitas individu memunculkan pertanyaan besar yang mengkhawatirkan dan perlu dipertimbangkan dengan benar terkait privasi. Apakah secara tidak langsung uang digital melanggar hak privasi masyarakat?

Teknologi tersebut memaksakan anonimitas. Pertanyaannya adalah, apakah DECP akan mengikuti jejak CBDC dengan menerapkannya? Apakah teknologi tersebut merupakan aspek yang tidak bisa dipisahkan dari uang digital? Sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh terhadap pengembangannya, Bank Sentral China memiliki opsi untuk menciptakan uang digital yang berbeda dari yang lain, karena pada dasarnya setiap produk yang dihasilkan harus mencerminkan nilai dan budaya warganya.

Meskipun AS merupakan negara yang lebih dulu mempopulerkan uang digital, mereka mengakui bahwa China yang akan memenangi kompetisi pengembangan uang digital ini. Direktur Federal Reserve (FED), Jerome Powell mengungkapkan bahwa bank sentral tidak mengidentifikasi potensi keuntungan material dari dolar digital sehingga menyebabkan terhambatnya pengembangan uang digital.

Dengan berjalannya uji coba di beberapa kota, sementara masih ada 600 kota lain tersisa yang perlu diuji coba, China hanya perlu mengujinya dengan benar atau bahkan meluncurkan begitu saja tanpa perlu mengujinya di seluruh kota. Jika uang digital milik China diluncurkan di kemudian hari, Didi yang menguasai 90% bisnis ride-sharing di China tersebut akan menjadi salah satu perusahaan pertama yang menikmati teknologi tersebut. Uang digital tersebut akan tersedia bagi 500 juta lebih pengguna Didi untuk membantu meningkatkan transaksi digital.

Kabarnya DCEP akan berbagi karakteristik yang sama dengan Bitcoin atau Libra yang saat ini dianggap sebagai salah satu instrumen investasi. Chinese government mengatakan uang digital ini akan mengganti sejumlah uang tunai yang beredar, tetapi tidak menggantikan jumlah uang beredar untuk investasi seperti deposito bank atau reksa dana. Mereka juga berharap tidak hanya membantu ekonomi digital, DCEP menjadi metode yang berguna untuk memerangi pencucian uang di negara tersebut.

Artikel Terkait