Reksa Dana, Saham

Beda Saham dan Reksa Dana Saham yang Perlu Dipahami

beda saham dan reksa dana saham

Ajaib.co.id – Calon investor milenial sedang sedikit galau menyaksikan gejolak dalam industri reksa dana di akhir tahun ini. Laju minat berinvetasi mereka yang sedang hits, jadi sedikit “terkoreksi”. Apa betul reksa dana adalah investasi yang mantul? Untuk menjawab kegalauan itu, milenial wajib memahami beda saham dan reksa dana saham.

Investasi saham lebih cocok untuk investor yang bisa mengelola sendiri investasinya. Sedangkan reksa dana saham bergantung pada kinerja Manajer Investasi yang dipilih investor.

Investasi saham dan investasi reksa dana saham, sama-sama punya resiko salah pilih. Di investasi saham salah pilih sahamnya, di reksa dana saham salah pilih Manajer Investasinya.

Titik Berat Beda Saham & Reksa Dana Saham

Fokus perbedaan ada pada risiko, di samping juga tentunya tingkat keuntungan, jangka waktu dan sifat kepemilikan.

Risiko investasi saham lebih tinggi karena kinerja portofolionya harus dikelola sendiri dengan analisa fundamental dan teknikal, monitoring berita korporasi, sentimen pasar, makro ekonomi, dan berbagai hal lainnya.

Sedangkan, risiko reksa dana saham lebih rendah karena kinerja portfolio dikelola oleh Manajer Investasi yang sudah expert dan berpengalaman di bidang investasi.

Dengan adanya volatilitas (fluktuasi harga saham), sebuah saham dapat menggerus aset investor. Sedangkan pengurangan nilai aset bersih reksa dana relatif lebih kecil.

Lalu mengapa sejumlah produk reksa dana saham bisa mengalami kejatuhan harga, seperti yang juga diutarakan oleh Hoesen – Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan dalam seminar Economic Outlook 2020 di Bursa Efek Indonesia, Selasa 10 Desember 2019?

Penurunan Kinerja Reksa Dana Saham Disebabkan Oleh Penurunan Kinerja Saham-Saham di dalamnya.

Wawan Hendrayana, Head of Capital Market Research Infovesta memaparkan analisanya:

“Penurunan kinerja signifikan reksa dana pada November lalu dapat disebabkan oleh penurunan kinerja saham-saham yang juga cukup signifikan pada periode tersebut.”

Wawan Hendrayana, Head of Capital Market Research Infovesta

Namun, Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) juga menilai bahwa ada yang salah dalam pengelolaan reksa dana saham oleh sejumlah Manajer Investasi, sehingga koreksi penurunan nilai di atas 50% pada semester I 2019 jauh melebihi koreksi nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) periode itu (2,95%).

Daftar 32 reksa dana saham yang nilainya terkoreksi melebihi 50% menurut data Infovesta Utama:

NoNama Reksa Dana SahamKinerja Ytd 29 November 2019
(31 Desember 2018 – 29 November 2019) (%)
1OSO Flores Equity Fund-51,31
2Emco Saham Barokah Syariah-51,76
3Narada Saham Indonesia II-51,95
4OSO Moluccas Equity Fund-52,67
5Sentra Ekuitas Berkembang-53,50
6Asia Raya Saham Berkembang-53,72
7Maybank Dana Ekuitas Syariah Saham-54,72
8Reksa Dana Treasure Saham Mantap-56,00
9VMI Dana Saham-56,29
10Corfina Grow-2-Prosper Rotasi Strategis-57,01
11Simas Saham Ultima-57,68
12Narada Saham Indonesia-59,03
13Asia Raya Syariah Saham Barokah-59,12
14Aurora SMC Equity-59,59
15Aurora Equity-60,39
16Jasa Capital Saham Progresif-60,70
17Asia Raya Saham Unggulan Syariah-60,96
18Prospera Syariah Saham-62,29
19Corfina Investa Saham Syariah-63,48
20Treasure Fund Super Maxxi-64,20
21Pinnacle Dana Prima-64,52
22Aurora Dana Ekuitas-67,00
23Pan Arcadia Dana Saham Bertumbuh-67,87
24MNC Dana Syariah Ekuitas II-68,07
25Pan Arcadia Dana Saham Syariah-68,28
26Corfina Equity Syariah-69,86
27Pool Advista Kapital Optimal-71,98
28Aurora Sharia Equity-76,35
29Pool Advista Kapital Syariah-77,15
30Millenium Equity Prima Plus-77,81
31Treasure Saham Berkah Syariah-79,44
32Millenium MCM Equity Sektoral-79,55

Reksa Dana Masih Andalan

Dalam era disrupsi ekonomi, tidak ada pertumbuhan sektor ekonomi yang mulus. Konstruksi jalan tol layang baru pun bergelombang! “Pengelolaan investasi diwarnai gejolak, tapi kinerja reksa dana masih tumbuh,” tuntas Hoesen. Naik-turun keuntungan dalam investasi reksa dana masih wajar, dan tidak se”horor” pada investasi saham. Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana per 5 Desember tercatat naik 9% menjadi Rp550 triliun. 

Seorang investor adalah karakter yang optimis, dan tidak terpaku dalam trauma, cepat move on dan malah akan berkonsentrasi pada peluang investasi yang terkalkulasi.

Dari segi kemudahan awal berinvestasi, tak ada Beda Saham Dan Reksa Dana Saham, kedua-duanya gampang. Hanya bermodal investasi awal minimal Rp100.000,-, registrasi, download aplikasi, lalu setor dan tinggal top up, investasi langsung jalan. Mungkin karena terbius oleh kemudahan itu, bisa dimaklumi jika ada Milenial yang kurang mendalami lebih jauh tentang Beda Saham Dan Reksa Dana Saham.

Dampak Beda Saham dan Reksa Dana Saham Pada Minat Investasi Milenial

Para pakar finansial menyebut generasi ini sebenarnya punya uang untuk investasi, tapi, sayangnya seperti penjelasan Ivan – Head of Wealth Management and Client Growth Bank Commonwealth, serta Founder PT Solusi Finansialku Indonesia – Melvin Mumpuni, berakarnya kebiasaan hangout, kuliner hingga travelling demi update konten media sosial ternyata mempengaruhi cara Milenial mengatur keuangan.

Investasi sering jadi urutan terbawah bucket list. Lebih banyak yang punya cicilan utang Rp1.000.000, – 2.000.000,- per bulan, daripada tabungan atau investasi sejumlah itu. Padahal, kemampuan membayar cicilan sebenarnya mengindikasikan kemampuan menyisihkan sebagian pendapatan, yang lebih cerdas jika digunakan untuk berinvestasi.

Jika Milenial yang ingin mulai berinvestasi, coba dengan budget testing— “Mulai dulu Rp100.000,-. Setelah tahu hasilnya, baru rutin optimalkan hingga maksimum 20% dari gaji per bulan,” sarannya.

Tantangan ekonomi bagi kaum Milenial saat ini memang lebih berat dari orang tua mereka di masa lalu. Dalam usia yang sama, dulu para orang tua umumnya sudah mampu memiliki rumah pribadi dan berinvestasi, sedangkan kini Milenial mungkin tidak.

Jika sudah memahami beda saham dan reksa dana saham, alangkah baiknya Milenial mulai melakukan perencanaan keuangan dan berinvestasi untuk masa depan yang lebih baik. Milenial tipe lowrisk mulai dengan selektif berinvestasi di reksa dana saham yang dikelola Manajemen Investasi kredibel, sedangkan tipe risk taker silakan berinvestasi langsung di pasar saham.

Good News!

Meskipun indeks literasi keuangan Milenial dan masyarakat masih jauh dari target, Deputi Direktur Pengelolaan Investasi OJK Halim Haryono melaporkan bahwa tingkat kesadaran investasi sudah meningkat secara signifikan.

#1 Pertumbuhan Juli 2019

Jumlah investor reksa dana tumbuh dari stagnan 350.000 di 2015 naik jadi 1.250.000 Single Investor Identification (SID) di 2019, berkat kinerja financial technology APERD dan e-commerceAsset Under Management (AUM) Manajer Investasi reksa dana sudah naik dari Rp270 triliun ke Rp520 triliun. AUM reksa dana syariah sudah naik dari Rp11 triliun ke Rp36 triliun.

#2 Pertumbuhan Oktober 2019

Jumlah investor reksa dana saham sudah naik 60,2% dari 995.510 di 2018 ke 2.280.000.

#3 Pertumbuhan November 2019

Direktur Batavia Prosperindo Yulius Manto mengatakan, kinerja hingga Oktober 2019 menunjukkan bahwa tingkat keuntungan reksa dana pendapatan tetap (obligasi) tertinggi, disusul reksa dana campuran, reksa dana pasar uang dan reksa dana saham yang masih belum optimal karena pengaruh perang dagang Amerika Serikat dan China.

#4 Pertumbuhan Per 29 November 2019

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah akun S-Invest investor naik 71,27% dari 995.510 di 2018 ke 1.710.000.

Sementara, investor saham naik hanya 23,89% dari 852.240 di 2018 ke 1.050.000.

Fakta ini mempertegas bahwa pertumbuhan investor reksa dana saham jauh melebihi investor saham. Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Uriep Budhi Prasetyo menambahkan, pertumbuhan jumlah investor yang pesat tidak lepas dari sosialisasi kepada investor Milenial untuk memulai investasinya di reksa dana saham.

Sementara Hoesen berpesan, “Jangan sampai pertumbuhan jumlah investor ini justru hanya meningkatkan inklusi, tanpa literasi yang cukup.”

“Investor kategori ini adalah masa depan pasar modal Indonesia,” tegas Uriep.

Nah, bagi kamu yang bingung memilih keduanya, kamu bisa coba mulai dengan terlebih dulu belajar investasi melalui reksa dana. Di mana, instrumen investasi yang satu ini memiliki risiko dan keuntungan yang lebih stabil, sehingga cocok bagi pemula. Sebelum memulai investasi, kamu terlebih dulu mengetahui dan menentukan tujuan keuangan ataupun tujuan investasimu. Dengan begitu, kamu bsa dengan mudah memilih jenis reksa dana yang paling sesuai dengan rencana keuangan tersebut.

Setelah itu, pilih juga manajer investasi untuk membantu kamu mengelola nilai investasi kamu di dalam reksa dana. Sehingga, kamu tidak perlu repot-repot melakukan analisis secara mendalam. Ajaib merupakan salah satu platform reksa dana yang dapat membantu kamu memulai investasi reksa dana kapan dan di mana saja secara online. Jadi tunggu apalagi? Yuk mulai reksa dana kamu sekarang juga di Ajaib!


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Artikel Terkait