Ajaib

Arbitrase Trading Bisa Menghasilkan Profit yang Menggiurkan

Arbitrase Trading
Arbitrase Trading

Ajaib.co.id – Selama ini, istilah ‘arbitrase’ lebih banyak dikenal di dunia hukum perdata. Namun, istilah yang sama juga dikenal dalam ranah ekonomi, khususnya perdagangan (trading). Maka, dikenal pula istlah ‘arbitrase trading’. Arbitrase trading ini sering dianggap ‘remeh’. Padahal, bisa menghasilkan profit yang menggiurkan bagi pelaku trading.

Di ranah ekonomi, arbitrase trading adalah salah satu strategi yang umum digunakan di pasar saham atau pasar aset. Arbitrase terjadi pada saat pelaku trading mengambil peluang untuk menghasilkan keuntungan dari perbedaan harga yang muncul di antara pasar.

Trader A, misalnya, membeli mata uang dolar Amerika Serikat (US$) menggunakan Rupiah (Rp) di situs B. Kala itu, kurs beli yang berlaku untuk US$1 adalah Rp14 ribu dan kurs jual Rp14.200. Trader A lalu mendapati info di situs C bahwa kurs beli yang berlaku di sana adalah Rp15.500 dan kurs jual Rp15.600 untuk US$1.

Kemudian, trader A memutuskan untuk membeli dari situs B dan menjual ke situs C. Dengan demikian, trader A bisa mendapatkan keuntungan sebesar Rp1.300 (Rp15.500–Rp14.200) untuk US$1. Sekilas, keuntungan yang bisa diterima trader A tidak terlalu banyak. Tetapi, jika trader A melakukan transaksi sebesar US$100 ribu, maka ia bisa menerima profit sebesar Rp130 juta.

Arbitrase trading tak hanya berlaku di pasar valuta asing (valas). Arbitrase trading bisa dilakukan di berbagai instrumen investasi, seperi mata uang digital (cryptocurrency).

Di Indonesia sendiri, dapat ditemui lebih dari satu exchange aset digital. Setiap penyedia jasa exchange aset digital biasanya menawarkan harga kripto yang berbeda pada waktu tertentu pada platform yang diusungnya.

Praktik arbitrase trading di pasar kripto tak berbeda jauh dengan valas. Bedanya hanya berupa aset yang satu konvensional, yang lainnya digital. Trader A, contohnya, ternyata juga membeli Bitcoin (BTC) dari platform B dan menjual di platform C untuk mendapatkan keuntungan tanpa mentransfer aset miliknya di antara penyedia.

Arbitrase trading pun dapat berlaku pula untuk sebaliknya. Maksudnya, trader A bisa membeli dari platform C, kemudian mentransfer ke platform B untuk menjual. Meski trader A akan dikenakan biaya transaksi, ia tetap berpotensi mendapatkan profit.  

Pada pasar kripto, strategi arbitrase trading tak hanya bisa dilakukan dengan cara di atas. Pada aset kripto, strategi lainnya adalah melakukan transaksi lintas batas negara, misalnya membeli Bitcoin dari Pasar Thailand yang memiliki harga lebih murah. Selanjutnya, trader bisa menjualnya ke Hongkong atau Korea Selatan dengan harga yang lebih tinggi. 

Selain itu, harga pasar kripto juga bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti suasana politik di suatu negara. Saat politik Hongkong ‘memanas’ beberapa tahun lalu, misalnya, harga BTC bisa mencapai 2% lebih tinggi daripada negara lain.

Dari beberapa contoh di atas, arbitrase trading tampaknya sederhana. Seorang trader hanya perlu membeli aset lebih murah dan menjualnya dengan harga lebih tinggi. Dengan begitu, profit pun diraihnya.

Kenyataannya, arbitrase trading tak sesederhana itu. Kesempatan untuk jual-beli seperti contoh-contoh yang telah disebutkan tidak sering muncul. Saat peluang ada, belum tentu seorang trader mendapatkannya karena trader-trader lain juga berlomba-lomba untuk mengambil kesempatan yang sama.

Oleh sebab itu, penting bagi trader untuk menghitung peluangnya terlebih dahulu. Selain kecepatan, keberhasilan arbitrase trading juga ditentukan oleh strategi yang matang, pengalaman, dan ketepatan.

Sejatinya, ada beberapa strategi arbitrase yang bisa digunakan untuk memaksimalkan profit, seperti di bawah ini:

Arbitrase Sederhana

Sesuai namanya, strategi ini paling mudah untuk dipahami dan diterapkan. Oleh sebab itu, strategi ini yang paling populer. Strategi ini dilakukan dengan membeli aset dengan harga rendah di penyedia exchange tertentu. Kemudian, menjualnya di exchange lainnya yang memiliki harga lebih tinggi.

Arbitrase Segitiga atau Triangular

Arbitrase segitiga atau triangular lebih rumit diterapkan daripada arbitrase sederhana. Arbitrase trading ini melibatkan tiga mata uang berbeda, baik konvensional maupun digital. Seorang trader biasanya menerapkan arbitrase triangular untuk mengeksploitasi inkonsistensi di antara nilai tukar ketiga mata uang tersebut.

Trader A, contohnya, menukar rupiah miliknya ke dolar AS. Dari dolar AS, dia kemudian menukarnya ke mata uang Euro. Ketika melakukannya, arbitrase muncul ketika dia memperoleh keuntungan daripada menukar Rupiah langsung ke Euro.

Selain jenis, seorang trader juga perlu memahami risiko trading arbitrase yang antara lain:

Waktu terbatas

Pelaku arbitrase trading harus berpacu dengan waktu. Strategi arbitrase trading adalah mencari profit dengan perhitungan cepat dalam waktu terbatas. Ini menjadi tantangan sekaligus risiko tersendiri bagi para trader.

Biaya tak terduga

Dalam arbitrase trading di pasar tertentu, misalnya kripto, trader harus memahami bahwa ada biaya lainnya yang akan dikenakan selain biaya transaksi.

Jika trader A menyetor Rupiah ke platform B untuk membeli Bitcoin, yang kemudian ditransfernya kembali ke platform C untuk dijual, maka akan dikenakan sejumlah jenis biaya, misalnya untuk melakukan penarikan Rupiah dari platform. Belum lagi ada biaya setoran, trading, transaksi, dan biaya-biaya lainnya.

Ketidakpastian harga

Pasar tertentu sangat tidak stabil, seperti kripto. Harga berubah begitu cepat. Beberapa kali, perubahan tersebut signifikan. Jadi, selalu ada risiko dari fluktuasi pasar yang tak bisa ditebak ini.

Guna meminimalisir risiko, sejumlah trader memanfaatkan perkembangan teknologi dalam melakukan arbitrase trading, seperti kalkulator arbitrase forex. Kalkulator ini dapat membantu trader untuk mengkalkulasi peluang arbitrase forex secara real time. Dengan kata lain, seorang trader sebaiknya senantiasa up-dated terhadap perkembangan teknologi yang bisa membantunya berbisnis. 

Artikel Terkait