Saham

Analisis Teknikal & Fundamental, Mana yang Lebih Hebat?

modal awal investasi saham

Ajaib.co.id – Dalam berinvestasi saham, seorang investor perlu melakukan analisis agar ketidakpastian semakin berkurang. Ada dua analisis yang biasanya digunakan para investor, yakni analisis fundamental dan teknikal.

Kedua analisis baik fundamental maupun teknikal sebenarnya sama baiknya, juga dapat digunakan secara bersamaan sebelum membeli sebuah saham.

Untuk mengetahui kedua analisis tersebut, simak penjelasannya di bawah ini:

Analisis Fundamental

Analisis Fundamental merupakan analisis yang memperhitungkan hal-hal yang dapat menggerakkan harga suatu saham, seperti hasil kinerja keuangan perusahaan, tingkat persaingan usaha, potensi perusahaan di tengah industrinya, faktor ekonomi baik makro maupun mikro.

Seorang investor yang berpegangan hanya pada faktor fundamental sebuah saham disebut juga fundamentalist, biasanya mereka memegang sebuah saham dalam waktu yang relatif panjang.

Aspek fundamental tersebut merupakan faktor penggerak utama harga saham. Dalam jangka pendek, harga suatu saham yang berfundamental baik cenderung berfluktuasi atau bahkan sedikit turun, namun dalam jangka panjang harganya akan cenderung naik.

Analisis fundamental biasanya digunakan untuk menjawab pertanyaan, apakah perusahaan masih baik atau tidak? pada harga berapa suatu saham layak dihargai?

Secara umum, terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan dalam menganalisis sebuah saham berdasarkan analisis fundamental, yakni Top-Down Approach dan bottom-Up Approach.

Kedua pendekatan tersebut memiliki tujuan sama, yakni untuk mencari saham-saham yang layak dikoleksi untuk dijadikan portofolio investasi.

Top-Down Approach

Seseorang fundamentalist menggunakan pendekatan ini karena beranggapan bahwa ekonomi sedang mendukung, dengan kondisi tersebut maka diharapkan harga suatu saham akan ikut naik.

Sama halnya dengan bercocok tanam, ketika cuaca mendukung, kemudian air yang mencukupi, tanah yang subur, bibit yang unggul, ditambah dengan hama yang minim maka hasil panen yang akan didapat berlimpah.

Dalam analisis fundamental, ada 4 hal yang dianalisis yakni kondisi makro ekonomi secara global, kondisi makro ekonomi dalam negeri, prospek industri/sektor, dan fundamental perusahaan itu sendiri.

Seorang investor yang memakai pendekatan Top down, pertama-tama menganalisis kondisi makroekonomi secara global dan dilanjutkan dengan menganalisis makroekonomi dalam negeri.

Contoh kondisi pada tingkat makroekonomi global: Proyeksi pertumbuhan ekonomi, kondisi hubungan antar negara/geopolitik, kondisi kemanan di suatu negara.

Contoh kondisi makroekonomi dalam negeri: kondisi perekonomian secara umum, pertumbuhan ekonomi/GDP growth, tingkat inflasi, suku bunga Bank Sentral, perkembangan sosial politik.

Berdasarkan analisis tersebut, investor akan memilih sektor maupun industri tertentu yang dianggapnya mempunyai prospek paling baik. Hal-hal yang dianalisis seperti prospek pertumbuhan sektor, siklus industri.

Setelah mendapatkan sektor yang dituju, mulailah dianalisis emiten-emiten yang mempunyai kinerja paling baik. Hasilnya, saham-saham unggulan yang terpilih akan dimasukkan dalam portofolio investasi.

Analisis terhadap perusahaan tersebut merupakan analisis secara mikro,  yang terdiri dari analisis qualitatif (menggali segala hal terkait bisnis perusahaan, termasuk manajemennya), dan analisis secara quantitatif (untuk mengetahui kesehatan keuangan perusahaan).

Bottom-Up Approach

Berbeda dengan pendekatan sebelumnya, bottom-up mengesampingkan analisis ekonomi dan siklus pasar. Pendekatan ini hanya berfokus pada analisis atas masing-masing saham.

Melalui pendekatan bottom-up, investor tidak perlu memfokuskan perhatiannya pada kondisi perekonomian secara keseluruhan, melainkan pada satu-persatu emiten.

Pendekatan tersebut mempunyai asumsi bahwa emiten bisa saja mempunyai kinerja baik, meski industrinya sedang tertekan.

Pendekatan ini mengharuskan investor mengkaji lebih dalam terhadap emiten termasuk produk ,layanan, stabilitas finansial, serta aspek-aspek yang dapat berdampak pada kinerja emiten.

Analisis Teknikal

Analisis teknikal digunakan untuk meramalkan harga saham di masa depan, terutama melalui data historis yang ditampilkan melalui grafik dan data volume perdagangan.

Pada umumnya, analisis teknikal ini digunakan untuk menentukan level harga yang tepat ketika akan membeli sebuah saham.

Meski tidak bisa memprediksi pergerakan harga secara tepat di masa depan, analisis teknikal dapat membantu mengantisipasi kemungkinan yang terjadi di masa yang akan datang.

Bagi investor pemula, analisis teknikal biasanya lebih mudah dipelajari dibandingkan analisis fundamental karena hanya diperlukan membaca grafik. Selain itu, investor harus mempunyai karakter sabar, disiplin dan siap akan cut loss.

Mengenal Chart

Dalam analisis teknikal, terdapat tiga jenis grafik yang paling banyak dipakai, yaitu grafik garis (line chart), grafik batang (bar chart), dan grafik lilin (candlesticks).

Pada line chart, garis yang terbentuk hanya menunjukkan harga penutupan saja.

Pada bar chart, grafik terdiri dari empat komponen utama yakni harga pembukaan (Open/O), harga tertinggi (High/H), harga terendah (Low/L), dan harga penutupan (Close/C).

Sedangkan pada grafik candlestick, juga terdiri dari keempat komponen OHLC, hanya saja setiap batangnya disertai dengan warna. Warna gelap menandakan suatu saham sedang turun dan warna cerah menandakan sebuah saham sedang naik.

Mengetahui Karakteristik Pergerakan Harga Saham

Menurut Charles Dow, terdapat 3 jenis pergerakan yang ada di pasar, yakni pergerakan tren primer (primary movement), pergerakan tren sekunder (secondary movement), dan fluktuasi harian (daily fluctuations).

Teori Dow tersebut dapat digunakan untuk membantu para investor dalam mengidentifikasi arah gerak pasar berdasarkan tren utama dan menjadikan pijakan dalam berinvestasi.

Primary Movement

Di dalam tren primer, pasar biasanya bergerak naik (bull) maupun turun (bear). Arah dari tren utama memiliki kecenderungan untuk terus berlanjut hingga terdapat sinyal-sinyal yang menunjukkan adanya pembalikan pembalikan arah.

Secondary Movements

pergerakan tren sekunder. Secara harfiah, arah dari tren sekunder berlawanan dengan tren primer atau bisa dikatakan bersifat reaksioner. Pada saham yang sedang bullish, pergerakan sekunder dianggap sebagai suatu koreksi harga.

Pada akhir bulan Maret-97, indeks Dow Jones mengalami penurunan selama 3 minggu yang ditunjukkan garis berwarna merah. Pergerakan tersebut bisa dikatakan sebagai pergerakan tren sekunder (Secondary movement) sebagai pengkoreksi Primary Movement.

Daily Fluctuations

Dow memandang fluktuasi harga saham harian penting untuk diperhatikan sebagai satu kesatuan, terlalu berfokus pada fluktuasi harga saham harian akan menyebabkan salah perkiraan dan meningkatkan kemungkinan akan rugi.

Sangat penting untuk melihat seluruh gambar ketika menganalisis pergerakan harga secara harian. Seperti potongan teka-teki, beberapa bagian tidak akan ada artinya, akan tetapi potongan-potongan tersebut juga sangat penting untuk melengkapi sebuah gambar.

Pergerakan harga secara harian menjadi penting ketika digabungkan dengan hari lainnya untuk membentuk pola pada sebuah analisis.

Volume Perdagangan Saham

Volume pada transaksi saham menunjukkan jumlah perdagangan dalam jangka waktu tertentu. Pada grafik, volume biasanya direpresentasikan sebagai histogram (batang vertikal) di bawah grafik harga.

Volume perdagangan yang tinggi kemudian diikuti dengan penurunan harga mengindikasikan terjadi distribusi (pelemahan yang kuat), demikian juga sebaliknya: volume perdagangan yang besar dengan kenaikan harga yang tinggi menunjukkan sinyal akumulasi (kenaikan kuat).

Sementara kenaikan atau pelemahan harga yang drastis dengan volume yang sangat tipis mengindikasikan perdagangan semu, atau secara konsep kurang mencerminkan perhatian pelaku pasar.

Membaca Pergerakan Tren

Tren merupakan rentang pergerakan harga (naik/turun) yang dicirikan oleh beberapa puncak dan lembah. Tren diklasifikasikan menjadi tiga bagian, yakni tren primer (lebih dari setahun), tren medium (satu hingga enam bulan), atau tren minor (kurang dari sebulan).

Pergerakan tren dapat dibagi menjadi 2 bagian, yakni trending dan trading.

Trending, ialah harga saham bergerak menurut kecenderungan tertentu, bisa naik (uptrend) maupun turun (downtrend).

Trading, ialah harga suatu saham cenderung bergerak bolak-balik dalam rentang tertentu (sideways).

Mengenal Support & Resistance

Support, ialah tingkat harga di mana permintaan dianggap cukup kuat untuk mencegah harga mengalami penurunan lebih lanjut.

Ketika harga cenderung turun menuju ke titik support dan dianggap menjadi lebih murah, pihak pembeli lebih cenderung untuk masuk dan pihak penjual menjadi kurang berminat melepas sahamnya pada area harga tersebut. Dengan kata lain buyer lebih dominan menguasai area support.

Resistance, ialah tingkat harga di mana penjualan dianggap cukup kuat untuk mencegah harga naik lebih jauh.

Ketika harga suatu saham bergerak ke arah resistance, pihak penjual menjadi lebih cenderung melepas efeknya ke pasar sedangkan pihak pembeli kurang berselera untuk membelinya. Dapat dikatakan bahwa seller lebih dominan menguasai area resistance.

Mengutip praktisi pasar modal Ellen May, support adalah alas ruangan, sementara resistance adalah langit-langit. Sementara itu, harga bergerak bagaikan bola yang memantul di antara keduanya.

Mengenal Overbought & Oversold

Overbought, ialahkondisi teknis yang terjadi ketika harga dianggap terlalu tinggi dan rentan terhadap penurunan. Kondisi ini dapat dianalisis dengan pola grafik atau dengan indikator seperti stochastic oscillator dan relative strength index (RSI).

Perlu dicermati bahwa overbought tidak selalu sama dengan bearish, hanya menyimpulkan bahwa harga mengalami kenaikan terlalu jauh atau terlalu cepat akibat reaksi pembelian secara berturut–turut oleh pelaku pasar.

Oversold, ialah kondisi teknis ketika harga dianggap terlalu rendah dan matang terhadap kenaikan.

Kondisi oversold dapat dianalisis dengan pola grafik atau dengan indikator seperti stochastic oscillator dan RSI. Perlu dicermati bahwa oversold tidak selalu sama dengan bullish, hanya menyimpulkan bahwa harga telah jatuh terlalu dalam ataupun terlalu cepat akibat penjualan masif oleh pelaku pasar.

Mengenal Rata-Rata Pergerakan Harga (Moving Average)

Moving average (MA) adalah salah satu dari sekian banyak metode yang sering digunakan dalam analisis teknikal. MA adalah rata-rata harga saham selama periode waktu yang telah lalu, kemudian dipasang dalam grafik beserta harga saham aktual di pasar saat itu.

Sebagai contoh, MA yang berasal dari rata-rata harga saham selama 5 hari perdagangan ditulis sebagai MA-5, sedangkan rerata harga selama 15 hari ditulis sebagai MA-15, dst. Data harga yang digunakan biasanya adalah harga penutupan (closing price).

MA dapat digunakan untuk mengidentifikasi tren pergerakan harga yang sedang berlaku, mengetahui pembalikan arah tren (trend reversal), dan menentukan level support dan resistance.

Mengenal Stochastic Oscillator

Indikator momentum yang dikembangkan oleh George Lane yang mengukur pergerakan harga surat berharga relatif terhadap kisaran harga yang dianggap tinggi/rendah selama jangka waktu tertentu.

Indikator ini menerapkan osilasi antara 0 dan 100, dengan keterangan di bawah 20 dianggap oversold dan di atas 80 sebagai overbought. Osilator stokastik dapat dipakai seperti osilator lainnya dengan mencari pembacaan overbought/oversold, divergensi positif/negatif.

Mengenal Indikator MACD

Dikembangkan oleh Gerald Appel pada akhir 1970-an, moving average convergence divergence (MACD) oscillator adalah salah satu indikator paling sederhana dan paling efektif yang tersedia.

MACD berfluktuasi di atas dan di bawah garis nol ketika rata-rata bergerak bertemu, menyeberang, dan menyimpang. Trader dapat mencari garis silang sinyal, garis tengah persilangan (crossover) dan divergensi untuk menghasilkan sinyal.

Karena MACD tidak memiliki batas, MACD tidak terlalu berguna untuk mengidentifikasi level overbought dan oversold. MACD lebih berfungsi untuk menunjukkan sinyal kapan saatnya untuk membeli dan kapan saatnya untuk menjual.

Artikel Terkait