Analisa Saham

Saham MYOR: Emiten FMCG yang Merambah Pasar Global

Profil PT Mayora Indah Tbk (MYOR)

PT Mayora Indah Tbk merupakan salah satu perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG) di Indonesia. Perusahaan yang berdiri pada 1977 ini pertama kali memiliki pabrik di Tangerang dan hanya menyasar pasar Jakarta dan sekitarnya. Seiring pertumbuhan bisnis, Mayora Indah melakukan penawaran umum perdana atau IPO di Bursa Efek Indonesia pada 1990. Dengan sandi saham MYOR, perusahaan mulai membidik pangsa pasar konsumen luar negeri, yakni Asia Tenggara.

Lalu terus melakukan ekspansi dan mulai menyasar negara-negara Asia. Kini, produk MYOR telah dikonsumsi oleh masyarakat di lima benua.

MYOR fokus pada produk makanan olahan dan minuman olahan. Agar bisnis semakin berkembang, perusahaan menjalankan pengelompokan menjadi enam produk. Mulai dari biskuit, kembang gula (permen), wafer, cokelat, kopi, dan makanan kesehatan.

Beberapa produk yang telah melekat di masyarakat antara lain Astor, Beng-beng, Choki Choki, Energen, Tora Bika, hingga Kopiko. Ke depannya, perusahaan bersama entitas anak akan tetap fokus menggarap bisnis di sektor makanan dan minuman.

Data RTI menunjukkan, sebanyak 32,93% saham MYOR dimiliki oleh PT Unita Branondo, sebanyak 26,14% dikantongi PT Mayora Dhana Utama, sebesar 25,22% oleh Jogi Hendra Atmadja, dan publik sebanyak 15.71%.

MYOR memiliki kapitalisasi pasar atau market cap senilai Rp57,01 triliun dengan harga saham per lembar sebesar Rp2.550 pada penutupan pasar, Kamis (18/2). Nilai itu jauh dari harga saat IPO di tahun 1990 yang senilai Rp9.300 per lembar sahamnya.

Mari kita analisis lebih dalam untuk dapat menilai seberapa menarik saham MYOR ini.

Kinerja Keuangan dari Laporan Keuangan Terakhir

Mayora Indah cukup mengalami penurunan kinerja akibat pandemi. Hal ini seiring dengan melemahnya perekonomian dan daya beli membuat masyarakat yang menahan diri untuk melakukan bepergian ke supermarket.

Merujuk presentasi Public Expose, MOYR membukukan penjualan hingga September 2020 senilai Rp17,58 triliun. Nilai itu turun tipis 2,1% YoY dibandingkan posisi yang sama tahun sebelumnya Rp17,95 triliun.

Sebetulnya, MYOR masih mampu mempertahankan posisinya di pasar lokal. Terbukti meski pandemi, penjualan domestik meningkat 5,55% YoY menjadi Rp10,46 triliun. Sayangnya, peningkatan tersebut tidak bisa menutupi penjualan ekspor yang tertekan hingga 11,53% YoY.

Lantaran penjualan ekspor MYOR turun dari Rp8,06 triliun menjadi Rp7,13 triliun. Dengan catatan, angka penjualan lokal dan ekspor tersebut belum dikurangi dengan retur.

Berikut ini laporan kinerja keuangan MYOR dalam miliar rupiah:

Kendati demikian, MYOR masih mampu membukukan keuntungan yang optimal. Terlihat dari laba bersih melesat 40,8% dari Rp1,12 triliun di kuartal ketiga 2019 menjadi Rp1,59 triliun di kuartal ketiga 2020. Hal ini terjadi lantaran laba selisih kurs mata uang asing bersih senilai Rp303,94 miliar.

Selanjutnya mari kita bahas dulu rasio-rasio keuangan umum MYOR. Berikut ini datanya:

Dari rasio-rasio tersebut menunjukkan bahwa kondisi bisnis MYOR masih sehat walau terdampak pandemi. Namun perlu diperhatikan peningkatan laba hingga kuartal III 2020 ditopang oleh laba selisih kurs rupiah dan mata uang asing.

Sebab untuk penjualan mengalami sedikit tekanan, namun perusahaan masih mampu membukukan laba yang optimal. Selain itu, peningkatan ROA dan ROE juga memperlihatkan perusahaan mampu mengoptimalkan aset dan ekuitas untuk mencetak laba.

Riwayat Kinerja

Meski tertekan sepanjang 2020 karena lemahnya daya beli masyarakat, sebenarnya, Mayora Indah cukup stabil dalam beberapa tahun terakhir.

Berikut ini rata-rata pertumbuhan tahunan (compound annual growth rate/ CAGR) sejumlah komponen kinerja MYOR periode 2016 hingga 2019:

Tingkat pertumbuhan dalam lima tahun terakhir mencerminkan bisnis MYOR yang konsisten. Pelemahan daya beli masyarakat di tengah pandemi telah menjadi tantangan bagi industri makanan dan minuman termasuk Mayora Indah.

Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham MYOR

MYOR merupakan salah satu emiten yang gemar membagikan dividen bagi para investor. Sejak 2009, perusahaan terus menebar dividen secara konsisten hingga saat ini. Dalam empat tahun terakhir, nominal dividen yang dibagikan untuk investor terus meningkat.

Berikut adalah besaran pembayaran dividen MYOR beberapa tahun terakhir:

Pembagian dividen yang rutin menjadi nilai tambah bagi suatu perusahaan terbuka, lantaran tidak banyak emiten yang mampu secara konsisten terus membayarkan dividen kepada pemegang sahamnya.

Hal ini menjadikan saham MYOR cocok untuk investor jangka panjang yang ingin menikmati pendapatan rutin dari dividen tiap tahun.

Prospek Bisnis MYOR

Mayora Indah menjalankan bisnis makanan dan minuman yang cukup populer di Indonesia. Bila perusahaan mampu mempertahankan posisi di pasar lokal dan global, sehingga prospek saham MYOR masih terbilang bagus.

Manajemen tetap optimistis bisnis sepanjang 2021 masih bisa bertumbuh masih pandemi masih belum jelas kapan berakhir. MYOR membidik penjualan bisa bertumbuh sebesar 10% dibandingkan realisasi 2020.

Merujuk data RTI, penjualan Mayora Indah Sepanjang kuartal II 2020 naik 6,01% dibanding realisasi kuartal I 2020. Hal ini terus berlanjut, penjualan selama kuartal III 2020 meningkat 13,96% dibanding realisasi kuartal II 2020.

Merujuk Kontan.co.id, MYOR semakin mantap mengejar target penjualan sepanjang 2021. Sebab, perusahaan telah merilis produk baru sejak 2020. Setidaknya ada 10 produk baru dari berbagai divisi perusahaan yang ditawarkan bagi pelanggan.

Berdasarkan data perusahaan, produk baru itu telah diterima baik oleh pasar. Perusahaan berharap produk anyar ini bisa menyumbang 5% hingga 10% terhadap kinerja penjualan di 2021.

MYOR juga berencana menyiapkan belanja modal alias capital expenditure (capex) senilai Rp600 miliar hingga Rp1 triliun pada 2021. Nilai itu sebenarnya lebih sedikit dari capex yang dianggarkan di 2020 senilai Rp2 triliun.

Harga Saham MYOR (Kesimpulan)

PER dan PBV MYOR saat ini masih tergolong mahal bila dibandingkan saham pada sektor konsumer makanan dan minuman lainnya. Berdasarkan data RTI, PER dan PBV MYOR per Kamis (18 Februari 2020) ada di level 27,47 kali dan 5,4 kali.

Secara umum, level PER dan PBV ini memang tergolong tinggi. Sebagai pembanding, saham ULTJ PER dan PBV-nya ada di level 13,84 kali dan 3,96 kali. Sementara itu, PER dan PBV saham GOOD ada di level 39,69 kali dan 4,44 kali.

Meskipun demikian, jika menilik kinerja keuangannya, saham MYOR bisa dipertimbangkan untuk dikoleksi. Sebab produk yang diproduksi MYOR sangat umum dikonsumsi oleh masyarakat, sehingga peluang bisnis untuk terus bertumbuh masih terbuka.

Disclaimer

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi.

Artikel Terkait