Ekonomi, Saham

Amerika Serikat Menghadapi Resesi, tapi Pasar Sahamnya Pulih?

Ajaib.co.id – Resesi adalah musuh bagi ekonomi negara. Jika sebuah negara sedang menghadapi resesi, artinya ekonomi negara tersebut sedang tidak baik. Secara sederhana, resesi bisa diartikan sebagai kelesuan ekonomi yang diakibatkan menurunnya aktivitas ekonomi di sebuah negara selama dua kuartal atau lebih secara berturut-turut. Beberapa indikator yang untuk menentukan apakah sebuah negara mengalami resesi adalah, penurunan Gross Domestic Product (GDP), anjloknya pendapatan riil, dan hancurnya industri manufaktur.

Perlambatan ekonomi dampaknya sangat masif terlebih untuk masyarakat luas, mulai dari perusahaan bangkrut, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran, dan penurunan nilai portofolio instrumen investasi, salah satunya saham. Ketika resesi tiba, masyarakat mengalihkan asetnya dari saham yang memiliki sentimen tinggi terhadap pasar ke instrumen investasi yang risikonya rendah, seperti obligasi negara atau emas. 

Berbicara tentang resesi dan saham yang kaitannya sangat erat, fenomena unik terjadi di Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Setelah COVID-19 ditetapkan sebagai pandemi global, ekonomi Amerika Serikat praktis langsung terpuruk, Pemerintah Amerika Serikat segera melakukan tindakan tanggap dengan meluncurkan stimulus check untuk warga negara agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan aktivitas ekonomi tetap berjalan.

Negeri Paman Sam pun menetapkan bahwa mereka tengah masuk ke jurang resesi dan perlahan-perlahan pasar saham mereka anjlok. Namun, baru-baru ini pasar saham di Amerika Serikat justru membaik. Pada pertengahan Juni lalu, indeks S&P 500 pulih dari kerugiannya akibat pandemi virus corona. Indeks Nasdaq juga menguat dengan ditutup di angka 10.000 untuk pertama kalinya. Hal yang sama juga terjadi pada indeks Dow Jones yang setelah itu sempat mengalami sedikit penurunan.

Ayunan di pasar saham ini terjadi setelah Pemerintah Amerika Serikat mendeklarasikan bahwa mereka tengah menghadapi resesi di bulan Februari. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa resesi ekonomi adalah periode menurunnya GDP yang signifikan selama dua kuartal berturut-turut, hal yang terjadi pada pasar saham Amerika Serikat ini cukup unik. 

National Bureau of Economic Research mengatakan melonjaknya pergerakan saham belum pernah terjadi sebelumnya di saat pengangguran meningkat dan produksi menurun. Lalu jika mereka berada dalam resesi, mengapa pasar saham justru menunjukkan tren positif?

Tren pasar saham kerap dijadikan indikator utama ekonomi, meskipun tidak secara langsung, tapi dapat dijadikan proyeksi ke mana ekonomi akan selanjutnya bergerak. Direktur Makro Global Fidelity Investment, Jurrien Timmer mengatakan pasar akan perlahan-lahan menurun sebelum resesi tiba dan akan mulai pulih empat bulan sebelum resesi berakhir. Dengan kata lain, jika pasar mewakili ekonomi, ia bergerak di luar fakta ekonomi sektor riil yang ada.

Ini sebabnya saham tidak langsung terhubung dengan indikator fundamental ekonomi, seperti GDP, pekerjaan, dan inflasi. Pasar saham terlihat mulai menunjukkan penurunan pada bulan Februari, tapi para ahli berpendapat tingkat pengangguran belum memuncak hingga bulan Mei. 

Menariknya, pasar saham memiliki rekam jejak yang bagus dalam ‘mengendus’ situasi ekonomi akan berhenti dari fase terburuknya, tapi tidak sempurna dan saat ini Amerika Serikat menghadapi resesi dan pandemi COVID-19 secara bersamaan. Kepala Strategi Investasi Schwab, Liz Ann Sonders mengungkapkan bahwa Amerika Serikat tidak pernah penghentian ekonomi secara penuh dalam sejarah, jadi kita tidak bisa kembali bagaimana pandemi global menghentikan ekonomi global empat kali berturut-turut.

Hal-hal yang tidak bisa diprediksi seperti ini menyebabkan lonjakan liar pada pasar saham, dari level tertingginya pada 19 Februari 2019 menurun drastis sebesar 35% pada bulan Maret, membukukan rekor pergerakan tercepat dari level tertinggi ke area penurunan dalam sejarah. Fenomena yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

Dalam hal ini, Sonders mengatakan bahwa dirinya yakin demonstrasi yang ditunjukkan pasar saham akhir-akhir ini merupakan wujud harapan investor akan pulihnya ekonomi Amerika Serikat, di mana GDP akan mengalami penurunan tajam dan cepat lalu diikuti dengan kenaikan yang tajam. Tren positif tersebut juga didukung oleh likuiditas dari Federal Reserve (Bank Sentral Amerika Serikat) dan program pergantian pendapatan untuk mengurangi tingkat pengangguran dan mengirimkan stimulus check COVID-19.

Fenomena ini dianalogikan seperti lembah di antara dua gunung, satu sisi akan lurus ke bawah dan satu sisi akan lurus ke atas. Menurut Sonders pasar merupakan pertaruhan antara Federal Reserve dan kongres yang saling mengisi lembah tersebut, yang harus dilakukan adalah melompatinya tanpa jatuh.

Sekarang muncul pertanyaan besarnya: Apakah yang ditampilkan pasar benar? Sonders menganggap masih ada peluang “risiko signifikan” dari tren positif pasar tidak menunjukkan harga sesungguhnya dari efek gelombang akibat COVID-19. Terdapat efek jangka panjang yang belum diketahui akan terjadi di masa yang akan datang.

Satu area yang paling berpotensi dan masih diabaikan adalah pengangguran permanen. Berdasarkan laporan di bulan Mei, pengangguran mulai meningkat di bulan April, jumlah kehilangan pekerjaan permanen naik, menandakan bahwa sejumlah bisnis telah berhenti beroperasi selamanya, dan kebangkrutan masih akan terus berlanjut. 

Sejumlah perusahan ritel besar di Amerika Serikat seperti J Crew, J.C.Penney, dan Neiman Marcus telah mengajukan kebangkrutan. Kini sejumlah pekerja yang sebelumnya hanya menjadi pengangguran sementara kini statusnya berubah menjadi pengangguran permanen. 

Ada banyak faktor yang harus dipikirkan terkait bagaimana ekonomi negara bekerja untuk dihubungkan dengan perubahan signifikan yang sedang berlangsung. Fenomena yang terjadi pada pasar saham Amerika Serikat dalam menghadapi resesi kali ini seperti disadarkan secara terpaksa bahwa pasar sudah memprediksi jauh ke depan.

Sumber: Why are we in a recession if the stock market is recovering?, dengan perubahan seperlunya.

Artikel Terkait