Saham

4 Rumus Harga Saham Ini Bisa Jadi Acuan sebelum Berinvestasi

rumus harga saham

Ajaib.co.id – Bagi kamu yang belum tahu rumus harga saham yang menentukan harga saham murah atau mahal, maka kamu harus menyimak ulasan berikut ini.

Pada umumnya seorang investor yang ingin membeli saham mencari harga yang murah. Dengan mendapatkan harga yang murah, mereka berekspektasi akan mendapatkan keuntungan yang besar ketika harganya melonjak naik dari harga awal ketika mereka membelinya.

Sayangnya banyak investor awam yang menilai harga suatu saham mahal atau murah hanya mengacu pada harga nominalnya saja. Sebenarnya ada rumus harga saham dalam menentukan saham yang akan kamu beli terbilang mahal atau murah.

Rumus tersebut dibagi mejadi 4 jenis rasio saham. Dengan mengetahui keempatnya mungkin kamu bisa membedakan mana saham mahal dan mana saham murah.

1. PBV (Price to Book Value Ratio)

PBV (Price to Book Value Ratio) atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Rasio Harga terhadap Nilai Buku digunakan untuk membandingkan kapitalisasi pasar perusahaan dengan nilai bukunya sendiri (perusahaan). Rasio PBV memberikan gambaran berapa banyak pemegang saham yang membiayai aset bersih perusahaan.

Nilai Buku ini adalah nilai aset perusahaan yang tercantum dalam laporan keuangan atau Balance Sheet dan dihitung dengan cara mengurangkan kewajiban perusahaan dari asetnya (Nilai Buku = Aktiva – Kewajiban). Bisa dikatakan rasio ini dapat menunjukan apa saja yang akan diperoleh pemegang saham setelah perusahaan terjual dan hutangnya semua telah dilunasi.

Pada umumnya Jika nilai BVPS di atas nilai 1, kesimpulannya harga saham tersebut terbilang mahal, begitupun sebaliknya. Berikut rumus harga saham berdasarkan rasio ini :

Price to Book Value = Harga per Lembar Saham / Nilai Buku per lembar Saham atau dalam bahasa Inggris : Price to Book Value (PBV) = Stock Price per Share / Book Value Per Share.

Contoh Perhitungan PBV (Price to Book Value Ratio)

Harga per lembar saham Bank Negara Indonesia Tbk dengan kode emiten BBNI tanggal 05 Desember 2017 sebesar Rp2.760 sedangkan nilai Buku per lembar saham sebesar Rp1.954. Berikut perhitungan rasio PBV BBNI:

PBV (Price to Book Value Ratio) = Harga per Lembar Saham / Nilai Buku per lembar Saham

= Rp2.760 / Rp1.954, = 1,41

Jadi PBV (Price to Book Value Ratio) Bank Negara Indonesia Tbk adalah sebesar 1,41 kali.

2. PER (Price to Earnings Ratio)

PER (Price to Earnings Ratio) adalah rasio untuk menilai perusahaan yang diukur dari harga saham saat ini terhadap pendapatan per-sahamnya (EPS).

Biasanya digunakan oleh investor dan analis untuk menentukan nilai relatif dari saham perusahaan dalam perbandingan apple to apple. Selain itu dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan dengan catatan sejarahnya sendiri atau untuk membandingkan pasar agregat satu sama lain atau dari waktu ke waktu.

Jika nilai rasio PER lebih tinggi menunjukkan bahwa pasar bersedia membayar lebih terhadap pendapatan atau laba suatu perusahaan, serta memiliki harapan yang tinggi terhadap masa depan perusahaan tersebut sehingga bersedia untuk menghargainya dengan harga yang lebih tinggi.

Di sisi lain, rasio PER yang lebih rendah menggambarkan bahwa pasar tidak cukup percaya terhadap masa depan saham perusahaan yang bersangkutan. Ini rumus harga saham berdasarkan rasio Price to Earnings Ratio (PER) = Harga Saham / Laba per Saham

Contoh Perhitungan Price to Earning Ratio (PER)

Harga per lembar saham perusahaan A adalah Rp500 dengan rasio EPS sebesar Rp20. Maka Rasio PER-nya adalah Rp500/Rp20 = Rp25. Ini menandakan bahwa Investor bersedia untuk membayar Rp25 untuk setiap Rp1 pendapatan perusahaan.

3. PEG Ratio (Price Earning Growth Ratio)

PEG Ratio (Price Earning Growth Ratio) adalah rasio yang menghitung nilai saham berdasarkan pendapatan saat ini dan potensi pertumbuhannya di masa yang akan datang.

Bisa dikatakan rasio ini banyak digunakan oleh investor untuk mengetahui apakah saham yang diliriknya tengah berada di atas atau di bawah harga, dengan mempertimbangkan pendapatan saat ini dengan tingkat pertumbuhan yang akan dicapai oleh perusahaan pada masa yang akan datang.

Rasio ini digunakan dengan cara membandingkan antara harga dengan pertumbuhan laba. Rasio ini memperhatikan pertumbuhan laba suatu perusahaan secara historis.

Cara melakukan perhitungannya adalah membagi PER dengan pertumbuhan laba dalam satu tahun. Makin rendah hasil rasio PEG maka akan semakin baik peluang harga saham tersebut akan meningkat di masa mendatang.

Untuk menghitung PEG (Price/Earnings to Growth Ratio) kamu bisa menggunakan rumus:

PEG = PER / Pertumbuhan EPS Tahunan.

PER (Price per Earning Ratio) adalah Rasio Harga terhadap Pendapatan dan EPS (Earning per Share) adalah laba per lembar saham

Contoh Perhitungan PEG (Price/Earning to Growth Ratio)

Untuk mendapatkan nilai PEG, kamu sebelumnya harus menghitung nilas EPS terlebih dahulu, begini contoh perhitungannnya

Pada tanggal 23 November 2017, PER (Price Earning Ratio) PT. Elnusa Tbk (ELSA) sebesar 17,93. EPS (Earning per Share) pada tahun 2016 adalah sebesar Rp192 dan tahun 2017 adalah sebesar Rp327.

Pertumbuhan EPS = EPS 2017 – EPS 2016 (Rp237 – Rp192)/Rp237

= (Rp45/Rp237)

= 0.23 atau 23%.

Setelah mendapatkan Pertumbuhan EPS, maka kamu masukkan ke rumus PEG sebagai berikut:

PEG = PER / Pertumbuhan EPS Tahunan

= 17,93 / 23% = 76,5%

Jadi PEG untuk PT. Elnusa Tbk (ELSA) sebesar 76,5% atau 0,765.

4. Dividen Yield

Dividen Yield adalah metode untuk mengukur jumlah arus kas yang kamu dapatkan untuk setiap rupiah yang kamu investasikan dalam pasar ekuitas. Dengan kata lain, ini adalah ukuran berapa banyak uang yang kamu dapatkan dari dividen. Dividend Yield pada dasarnya adalah pengembalian investasi untuk saham tanpa capital gain.

Kamu perlu untuk memerhatikan konsistensi suatu perusahaan dalam memberikan dividen. Jika perusahaan tersebut secara konsisten membagikan dividen dalam 10 tahun terakhir maka bisa dikatakan saham perusahaan tersebut layak untuk dibeli.

Biasanya makin tinggi Dividen Yield maka saham tersebut makin menarik, namun konsistensi sebuah perusahaan dalam membagikan dividen juga perlu diperhatikan. Berikut rumus harga saham berdasarkan Dividend Yield, dan contoh perhitungannya:

Per tanggal 07 November 2017, Harga per lembar saham PT. CIMB Niaga Tbk (BNGA) diperdagangkan sebesar Rp16.200, sedangkan pada tahun 2017 dividen per lembar saham tahunan yang dibagikan sebesar Rp428.

Dividend Yield = (Dividen per lembar Saham Tahunan / Nilai Pasar per lembar Saham) x 100

= (Rp428 / Rp16.200) x 100 = 2,64%

Jadi dividen PT CIMB Niaga Tbk (BNGA)  adalah sebesar 2,64%.

Ketahuilah bahwa harga nominal saham tidak memberikan petunjuk apakah berinvestasi di perusahaan tersebut merupakan keputusan yang paling tepat, atau apakah nilai perusahaan ini yang terlalu tinggi. Jadi, gunakanlah keempat rumus harga saham tersebut untuk kamu jadikan acuan dalam menilai harga saham murah atau mahal.

Artikel Terkait