Cryptocurrency

4 Faktor Penentu Harga 1 Bitcoin Sebagai Cryptocurrency

harga-1-bitcoin

Ajaib.co.id – Bitcoin muncul sebagai salah satu mata uang digital yang sempat mencuri perhatian beberapa tahun belakangan. Namun mekanismenya masih terasa asing bagi orang kebanyakan. Salah satunya bagaimana penentuan harga 1 Bitcoin diberlakukan.

Bitcoin adalah salah satu mata uang elektronik yang hadir di industri keuangan. Kehadirannya masih menjadi pro kontra salah satunya karena sistemnya yang tidak lazim. Jika harga mata uang konvensional ditentukan oleh nilai tukar, tingkat perekonomian suatu negara dan aksesibiltasnya maka Bitcoin sangat berbeda.

Tidak ada pusat otorisasi atau bank sentral yang mengeluarkan kebijakan atas penggunaan Bitcoin. Meski demikian, harga 1 Bitcoin pernah melesat tinggi dan mendatangkan keuntungan yang tidak terduga bagi pemiliknya. Sejarah mencatat, harga tertinggi sepanjang masa Bitcoin saat ini adalah US$20.000 per koin atau setara dengan Rp262 juta dengan kurs saat itu pada Desember 2017.

Namun harga ini tidak bertahan lama karena kemudian harganya merosot jauh hingga US$3.000 per koin Bitcoin. Kini harga 1 Bitcoin pada medio akhir April 2020 tercatat mencapai US$ 7.000 per koin. Fluktuasi harga ini menunjukkan jika mata uang baru ini juga memberikan peluang bagi pemiliknya untuk mendapatkan keuntungan jika jeli untuk melihat kesempatan.

Apa Saja yang Mempengaruhi Harga 1 Bitcoin?

Bitcoin merupakan mata uang digital yang naik daun belakangan ini. Jika sebelumnya dianggap tidak bernilai maka harganya kini naik gila-gilaan. Indonesia merupakan salah satu negara yang melegalkan Bitcoin (BTC) meskipun bukan sebagai alat pembayaran yang sah.

BTC hanya diperdagangan di Bursa Berjangka, tempat komoditas keuangan diperdagangkan, sesuai dengan aturan dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Beberapa negara lainnya masih terus menggodok kebijakan soal mata uang kripto ini.

Mata uang virtual ini tidak terikat pada negara atau regulasi manapun. Karena itu, banyak orang mengira fluktuasi harganya tidak bisa ditebak. Sebagian besar membeli Bitcoin sebagai iseng belaka sembari berharap keberuntungkan jika suatu saat harganya akan melonjak.

Hal ini tidak sepenuhnya benar karena Bitcoin juga bekerja berdasarkan suatu sistem. Buktinya, harga BTC saat ini turun padahal banyak yang memprediksi jika kenaikannya tidak akan terhentikan. Tercatat fluktuasi harganya terus terjadi. Bahkan bisa saja dalam semalam harganya meroket tinggi.

Harga 1 Bitcoin bisa berubah-ubah karena pengaruh berbagai kondisi. Meskipun sistemnya tidak sekompleks mata uang konvensional namun toh tetap ada faktor yang mempengaruhinya. Kalau kamu beriminat berinvestasi Bitcoin ada baiknya memahami sejumlah faktor ini.

Setidaknya ada 4 faktor yang menetukan berapa harga 1 Bitcoin antara lain:

1. Permintaan Pasar

Bitcoin disebuat sebagai emas digital karena persediaannya yang terbatas. Sejak awal sudah ditentukan jika jumlah BTC yang dilepas ke pasar hanya sebanyak 21 juta keping. Hukum ekonomi yang berlaku sederhana ketika permintaan meningkat maka harganya meningkat, begitu pula sebaliknya.

Tren harganya yang dipercaya terus meningkat akhirnya menjadi pemicu orang untuk berbondong-bondong membeli mata uang virtual ini. Dampaknya ialah harga yang kemudian naik atau turun ini sesuai dengan jumlah permintaan.

2. Fungsi Sebagai Alat Pembayaran

Melansir dari bitcoin.org, semakin banyak perusahaan dan personal yang menggunakan Bitcoin. Sejumlah transaksi restoran, apartemen, dan firma hukum menggunakannya sebagai mata uang. Ini membuat nilai BTC semakin naik karena semakin laku sebagai alat pembayaran.

Beberapa perusahaan di Amerika Serikat yang menerima pembayaran dengan BTC antara lain Hublot, produsen jam tangan mewah, supermarket, dan properti. Nilai Bitcoin yang sudah ditransaksikan hingga Mei 2018 tercatat sudah mencapai US$ 100 miliar.

3. Kebijakan Pemerintah

Bitcoin tidak terikat pada pemerintah manapun namun bisa dipengaruh oleh kebijakan pemerintah. Khususnya apabila kebijakan itu keluar dari negara besar dan berpengaruh. Bitcoin yang dianggap ilegal oleh pemerintah Cina tentunya akan berdampak pada jatuhnya harga mata uang tersebut. Pasalnya, BTC kemudian kehilangan nilainya paling tidak untuk transaksi yang berkaitan dengan Cina yang perekonomiannya terus berkembang.

4. Isu Buruk

Isu buruk soal Bitcoin tentunya mempengaruhi harga 1 Bitcoin setiap harinya. Contohnya ketika tersebar isu jika BTC dijadikan mata uang transaksi ilegal dan terorisme tentunya pasar menurunkan minatnya. Serupa pula jika investasi BTC kemudian terbukti dijadikan sebagai modus penipuan belaka seperti yang terjadi di Hongkong.

Jatuhnya harga Bitcoin karena dampak isu negatif sudah terbukti pada tahun lalu. Nilai mata uang digital ini ambruk hingga 70% setelah sempat naik gila-gilaan. Tom Lee dari Fundstrat mengatakan hal ini karena ketidakpastian pengaturan, kekhawatiran atas manipulasi harga dan sentimen pasar semuanya membebani cryptocurrency.

Harga Bitcoin Diprediksi Bakal Naik Karena Corona

Pandemi Virus Corona memukul berbagai pasar keuangan seperti pasar saham dan valuta asing. Bircoin juga tak lepas dari sentimen negatif ini. Bitcoin sempat jatuh 27% pada 12 Maret karena pasar keuangan terpukul oleh pandemi virus corona.

Meski demikian, dipercaya jika trennya akan berbalik arah. Corona akan membuat investor Bitcoin bertambah dan mengerek harga 1 Bitcoin. Dikutip dari Kompas.com, CEO platform jual beli aset kripto Indodax, Oscar Darmawan mengatakan, harga mata uang kripto bitcoin diprediksi masih akan naik secara bertahap dan juga dalam jangka panjang.

Investor mulai melirik aset kripto seperti Bitcoin yang tidak terpengaruh kebijakan pemerintah dan kebijakan global seperti saat virus corona merebak. Sebab, yang mempengaruhi harga hanya permintaan dan penawarannya sendiri. Adapun penawarannya pun sangat terbatas.

Selain itu, pengaruh momen halving day tahun ini juga akan sangat terasa. Halving day ialah saat di mana supply Bitcoin akan dikurangi dan akan meningkatkan harga 1 Bitcoin untuk jangka panjang dan bertahap.

Laporan Bloomberg juga menyatakan hal yang serupa. Emas dan Bitcoin berkarakter sebagai aset lindung nilai, sebagai akibat dari gejolak pasar modal, dampak pandemi COVID-19. Keduanya merasakan dampak paling besar atas adanya stimulus moneter yang dikeluarkan berbagai negara karena ambruknya pasar modal.

Bloomberg menyebutkan jika mata uang Bitcoin bersiap-siap untuk bull-run alias naik tinggi secara besar-besaran seperti periode 2015-2017 lalu. Adapun, halving day yang menyebabkan adanya pengurangan laju produksi akan menerapkan pengurangan imbalan kepada penambang dari 12,5 BTC menjadi 6,25 BTC per block yang akan terjadi pada medio Mei 2020.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Artikel Terkait