3 Pertanyaan yang Harus Dijawab Sebelum Anda Membeli Investasi Pertama Anda

Pertanyaan yang sering ditanyakan oleh para investor baru adalah, “Bagaimana saya bisa membangun portofolio investasi sebaik mungkin?” Masalahnya adalah tidak ada yang bisa disebut sebagai portofolio “terbaik” karena setiap individu, dan setiap keluarga, memiliki serangkaian peluang, risiko, kemampuan, dan temperamen emosional yang unik. Apa yang berhasil untuk tetangga atau saudara Anda mungkin tidak cocok untuk Anda. Faktanya, apa yang berhasil untuk Anda di usia 20-an mungkin tidak bekerja ketika Anda berusia 70 ketika Anda sudah berpikir untuk menyiapkan dana perwalian untuk cucu-cucu Anda.

Berikut adalah tiga pertanyaan yang harus Anda pertimbangkan sebelum Anda bahkan memulai proses membangun portofolio investasi Anda.

# Di Kelas Aset Manakah Anda Akan Konsentrasikan Dana Anda dan Mengapa?

Setiap kelas aset memiliki perilaku yang berbeda. Itulah sebabnya strategi alokasi aset sangat penting. Menyeimbangkan kelebihan dan kelemahan dari masing-masing kelas aset serta memperhitungkan kebutuhan yang Anda miliki akan membantu Anda menentukan keputusan tentang cara mengalokasikan uang yang akan Anda gunakan untuk berinvestasi.

  • Saham secara historis memberikan pengembalian jangka panjang tertinggi karena mewakili kepemilikan saham dalam bisnis nyata yang menjual produk dan layanan nyata. Sebagian laba dibayarkan sebagai dividen tunai dan sebagian dikembalikan ke laba ditahan di neraca untuk mendanai pertumbuhan perusahaan di masa depan. Sayangnya, saham berfluktuasi dalam nilai pasar sehari-hari dan bahkan tahun-ke-tahun, sering kali dalam jumlah signifikan. Bukan hal yang membuat kaget untuk menyaksikan nilai pasar dari saham Anda menurun 30% atau lebih setidaknya sekali setiap 36 bulan. Setidaknya beberapa kali dalam hidup Anda, Anda akan melihat saham Anda menurun 50% dari puncak ke palung. Ini adalah sifat dari peluang. Untuk perusahaan yang baik dengan keuntungan nyata, hal ini tidak terlalu menjadi masalah.
  • Real estat adalah kepemilikan jangka panjang terbaik kedua. Meskipun cenderung tidak tumbuh jauh melampaui inflasi, kecuali jika Anda cukup beruntung untuk memiliki properti di landlocked area seperti San Francisco atau New York di mana tanah terbatas sementara pertumbuhan populasi terus meningkat, umumnya pertumbuhan mengikuti laju inflasi.
  • Obligasi dan surat berharga pendapatan tetap merupakan klaim legal atas outputperusahaan atas pengembalian uang yang dipinjamkan (pokok) dan “sewa” atas uang (bunga) selama perusahaan menggunakannya. Obligasi memiliki mekanisme keamanan bahwa tidak peduli seberapa jauh harga obligasi menurun, selama perusahaan tersebut memiliki uang untuk memenuhi kewajiban kontraknya, obligasi tersebut akan ditebus pada nilai nominal pada tanggal jatuh tempo. Sayangnya, ketika tingkat inflasi meningkat, nilai setiap rupiah di masa depan juga akan menurun. Hal ini dapat menurunkan keuntungan berinvestasi terhadap obligasi jangka panjang dengan suku bunga tetap yang terkunci selama 20 atau 30 tahun.
  • Uang tunai dan setara kas, seperti deposito bank dan obligasi jangka pendek, termasuk di antara kelas aset sangat aman untuk portofolio investasi karena mereka menyediakan uang tunai yang dapat Anda gunakan untuk membeli saham murah, obligasi, dan real estat saat pasar jatuh atau membayar tagihan atas kebutuhan mendadak Anda. Namun, aset ini memberikan pengembalian yang tidak signifikan. Bahkan, tergantung pada cara Anda menyimpan uang Anda, Anda bahkan mungkin kehilangan daya beli setelah inflasi. Hitunglah keperluan persediaan uang tunai yang Anda butuhkan dan investasikan sisanya pada aset lain.

# Akankah Anda Memprioritaskan Arus Kas Daripada Pertumbuhan Jangka Panjang?

Tiap jenis investasi memiliki ciri khas yang berbeda pula. Satu investasi memberikan uang yang bisa langsung Anda gunakan hari ini, investasi yang lain bisa memberikan Anda uang yang jauh lebih besar di masa depan. Bahkan beberapa perusahaan yang membayar dividen dapat menjadi kendaraan untuk pertumbuhan jangka panjang jika Anda memilih untuk menanamkan kembali dividen tersebut untuk membeli lebih banyak saham. Setelah beberapa dekade, perbedaan antara menginvestasikan kembali dan tidak menginvestasikan kembali pendapatan dividen akan menjadi sangat besar.

Investor yang berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang besar, yang menjual produk beragam, dan umumnya memiliki pertumbuhan yang sudah stabil dan selalu membayar dividen juga sangat berbeda dengan investor pada perusahaan-perusahaan start up, yang umumnya belum membagikan dividen dan menyimpan pendapatannya untuk perkembangan perusahaan.

Hal yang sama berlaku untuk investasi real estat. Beberapa proyek, terutama yang memanfaatkan leverage atau melibatkan pengembangan proyek baru, mungkin memerlukan banyak arus kas untuk membangun ekuitas tetapi pada akhirnya dapat memberikan hasil yang lebih besar. Sementara investasi yang lain tidak menawarkan banyak peluang untuk reinvestasi, seperti bangunan apartemen yang menguntungkan tetapi tidak memiliki lahan.

# Berapa Kebutuhan Likuiditas Anda?

Likuiditas sangat penting bahkan hal ini harus diutamakan sebelum Anda memikirkan tentang pengembalian Anda. Berapa kebutuhan likuiditas Anda? Apakah ada kemungkinan Anda perlu memanfaatkan uang yang telah Anda sisihkan? Jika Anda tidak memiliki setidaknya horizon waktu selama tiga tahun, sebagian besar saham dan real estat sebaiknya tidak masuk dalam investasi Anda.

Beberapa investor mengikuti aturan umum, seperti selalu menjaga setidaknya 10% dari portofolio mereka dalam setara kas demi likuiditas. Kalau tidak, pilihlah aset yang kurang likuid dengan alokasi yang lebih tinggi, seperti tidak pernah menyimpan kurang dari 25% dana dalam obligasi berkualitas tinggi. Jawaban yang tepat tergantung pada harga yang Anda dapatkan pada waktu tertentu dan tujuan yang Anda miliki untuk portofolio Anda.

Pertanyaan-pertanyaan di atas perlu Anda renungkan jawabannya sebelum Anda berinvestasi. Dengan mengetahui jawaban tersebut, Anda akan mengetahui investasi apa yang cocok dengan kebutuhan Anda. Investasi berbeda untuk setiap orang karena setiap orang memiliki kebutuhan, tujuan dan profil risiko yang berbeda.

Share to :
Tags: ,
Artikel Terkait